RoswitaPL.com: Ta'aruf (Part 3) : Fit And Proper Test

Minggu, 24 Januari 2021

Ta'aruf (Part 3) : Fit And Proper Test

Di Part ini aku akan bahas proses ta'aruf selanjutnya setelah pertemuan pertama. Tentunya semakin kesini semakin mendekati tahapan pernikahan ya. Dimana A Fahru akan kerumah untuk bertemu dengan mamah mengutarakan maksud untuk mengkhitbah (meminang) aku. Namun ternyata mamah ngasih semacam rintangan sebelum tahap pertemuan 2 keluarga besar. Maka dari itu part ini aku kasih judul "Fit And Proper Test". Kira-kira rintangannya apa ya? Bisa ga ya? Kita langsung masuk ke ceritanya ya.πŸ˜‰

 Buat yang baru baca part 3, baiknya baca dulu part sebelumnya biar nyambung ya. Part 1 ceritanya tentang proses waktu mamah ACC CV Ta'aruf dari A Fahru. Dan di Part 2 di ceritakan tentang proses pertemuan pertama kami didampingin guru ngaji masing-masing. 


Baca juga : Ta'aruf (Part 1) : CV di ACC Mamah!

Baca juga : Ta'aruf (Part 2) : Pertemuan Pertama!

 

 

Gambaran rintangan proses taaruf
Photo by Interactive Sports on Unsplash
 

 

Tahapan Ta'aruf

 

 

 

Jadi setelah pertemuan pertama. Kami masih beberapa kali saling kirim email via Teh Linda dan Kang Rizal. Walau kami berdua sudah sepakat untuk komitmen kearah yang serius, tidak serta merta komunikasi kami menjadi bebas semaunya. Selama proses ta'aruf komunikasi kami berdua masih difasilitasi guru ngaji kami masing-masing. Kenapa? Untuk menjaga proses agar terhindar dari fitnah. Untuk menanyakan atau menyampaikan yang harus disampaikan sebelum proses ta'aruf selanjutnya, khitbah. 

Di email aku sempet menyampaikan kalau pasti akan jutek sama A Fahru selama proses. Kenapa? Jadi sebelum ta'aruf aku sebenernya udah bilang ke Teh Linda kalau bisa ta'arufnya aku duluan aja yang OK sama ikhwannya , aku ga masalah di tolak (kalau nantinya ikhwannya ga OK sama aku). Karena kalau ikhwannya dluan "ada rasa tertarik" akunya pasti gamau (Haha..bukan jual mahal ye! Beda!). Karena aku ada pengalaman traumatis sama cowok yang duluan suka sama aku. Jadi kalau sama cowo yang suka sama aku, AKU OTOMATIS JUTEK, GALAK, NGEJAUH

Traumanya kenapa? Nantilah kalau aku mau aku bahas. Hehe. 

Karena aku dan A Fahru mau ke tahap selanjutnya, aku ceritain ke A Fahru via email lewat Teh Linda.  Dan, MasyaAllah , A Fahru siap untuk dijutekin dan di galakin. Dia gamasalah katanya. Dan bener kok selama proses aku sering block kontak dia, telepon dia aku reject WAHAAHAHA....πŸ˜‚ Pernah nih, 2 minggu sebelum menikah aku sakit, dan dia jenguk ke rumah bawa buah, aku gamau nemuin, akhirnya mamah yang ketemu. Mau ngomong h-2 nikah aja pas meeting sama panitia, mejaku kututup pake tumpukan dus air mineral biar ga liat muka dia! SEBEGITUNYA SERIUS! πŸ˜‚

Haura perjuangan ayah mendapatkan bunda begitu KERAS!πŸ˜‚

 
 
Tahapan Ta'aruf
 
 
 
 
 Nah... tahapan ta'aruf selanjutnya, setelah pertemuan adalah kunjungan A Fahru ke rumahku. Yang pertama, rumah akhwatnya tentunya. Ini menurutku sih, hal ini untuk antisipasi keluarga akhwat tidak setuju dengan si ikhwan (Wallahu'alam sih mungkin untuk pastinya bisa konsultasi samag uru ngaji masing-masing😊). Kunjungan ini aku minta belum pake keluarga besar, karena kan "Masih belum pasti". Jadi bener-bener A Fahru ke rumah untuk mengutarakan niatan untuk menikah denganku (Hayoo pada senyum-senyum ga bacanya...? 😏) . Awalnya karena khawatir aku minta Kang Rizal datang , namun karena A Fahru sudah yakin sendiri. Akhirya A Fahru datang sendiri ke rumah untuk ketemu mamah.
Ilustrasi Melamar Ke Rumah
Photo by joeypistachio from Pexels
(Ilustrasi)


Proses A Fahru ketemu mamah termasuk lancar. Bahkan saat A Fahru ngutarain maksud kedatangannya pun lugas, tegas.

"Jadi maksud kedatangan saya kesini, untuk mengajak anak ibu, berkenalan lebih jauh. Ingin mengkhitbah dan mengajaknya untuk menikah." , keliatan sekali  penuh percaya diri saat mengutarakan ini.

Tapi mamah malah jawab gini, "Loh, katanya mau kenalan. Kok langsung ngajak nikah? Memangnya udah saling tau? Kalau gak cocok gimana?Gak mau pacaran aja dulu? "

Ngeliat A Fahru kaget denger pertanyaan mamah, ga tega sih, tapi karena penasaran gimana cara beliau jawab jadi aku sengaja ga bantuin ,Hahaha JAHAT.

"InsyaAllah tujuan ta'aruf ini untuk saling mengenal satu sama lain bu. Dan insyaAllah saya mau serius menikahi wita. "

Aku? Getek. Merinding. Pengen ketawa juga sih ngomongin serius gini. πŸ˜‚

"Iya mah namanya kan ta'aruf. Saling kenalnya ya begini prosesnya, ga pake pacaran. ", akhirnya aku nyaut bantuin A Fahru. 

Mamah nampaknya cukup puas kita saling bantu jawab. Aku yang sebenernya tadi mau diem aja, tapi  inget pesen Teh Linda sama A Rizal, kalau  kita berdua harus mulai saling bantu ngadepin keluarga masing-masing. Akhirnya aku bantu ngomong ke mamah. Aku fikir pertemuannya akan selesai sampai disitu, ternyata mamah masih lanjut ngomongnya,

"Sebenernya mamah terserah wita aja, tapi karena wita ini kan ayahnya udah ga ada dari dia SMP..."

DEG! Awalnya aku pikir mamah bakal mellow..πŸ˜—


"Dan yang nanti akan jadi wali nikahnya wita kan adik laki-lakinya papahnya, jadi mamah pengen kamu silaturahim ke adik-adiknya almarhum papahnya wita, semuanya juga sama Mbah Putrinya wita. Dan minta izin sama mereka."

 

Aku bengong dong...Secara Papah anak pertama dari 10 bersaudara, jadi adiknya ada 9 dan A Fahru harus silaturahim dengan mereka semua. Satu persatu. Dan FYI, ga semua om dan tante aku ada di Bogor, ada yang kerja di Kalimantan, dan ada juga yang dinasnya di Sragen. Aku sendiri sempat fikir A Fahru akan keberatan dengan syarat ini. DILUAR DUGAAN.

"Siap bu!", jawabnya optimis.

Nambah lagi satu point untuk orang yang "masih rencananya" akan jadi calon imamku ini. Memang selalu suka liat laki-laki yang tegas dan serius, kayak gagah gitu. πŸ˜‚ Tapi tetep ya saat itu masih belum ada rasa sama sekali. Gatau kenapa. Dan aku malah sempet dialog gini dalam hati.

"Ya Allah, kalau ada 1 aja om atau tante yang ga suka sama A Fahru, dia wita tolak gapapa ya..."

Yah...memang saat itu belum ada rasa. Malah gasuka dengan beliau, bawaan sebel gitu kalo ketemu, buang muka, karena ya itu karena dia duluan yang suka πŸ˜‚. Maafin aku ya sayang...😘😘😘

 

Tahapan Ta'aruf

 

 

Rangkaian Fit And Proper Test pertama adalah ke Om Dodi, adik papah tertua yang rumahnya memang paling deket sama rumahku. Waduh susah nih, pikirku, secara om lulusan FE UI dan pernah kerja di perusahaan Internasional. Orangnya kritis banget! Pasti di pertanyaannya macem-macem. Aku memang ga ngasih info apa-apa tentang adik2 papah ke A Fahru, selain karena dia ga nanya juga, terus karena aku pengen tau dia sanggup atau nggak ngadepin keluarga besar papah. Di luar dugaan mungkin karena sama-sama lulusan UI obrolan lancar, bahkan A Fahru cukup supel, beberapa menit aja udah ngobrol asik sama Om dan Tante. Hasil Fit And Proper Test pertama LANCARR. 😁

Yang Kedua dan Ketiga, Tante Nani dan Tante Yati, karena 1 daerah perumahan juga terbilang lancar. Lagi-lagi A Fahru langsung bisa mengimbangi ngobrolan dengan masing-masing adik papah. Impressive sih aku dibuatnya. Testnya pas diajak jama'ahan ke Masjid A Fahru ga banyak ngomong langsung berangkat sama Om Wawan (suami tante Nani). Pas pulang Om bisik-bisik ,"Ketemu dimana wit? Oke nih, langsung mau pas diajak ke Masjid. Anaknya juga sopan dan keliatan pintar. Om sih setuju." Aku nyengir "Dikenalin guru ngaji om. Mohon doanya aja biar lancar". 3 dari 9 berjalan mulusss.

Masjid. Tahapan proses ta'aruf
Photo by AaDil from Pexels
(Ilustrasi)

 

Om yang jauh di luar Bogor ada Om Rizal (Aceh), Om Tono (Sragen), Om Mamat (Pontianak) pun terbilang cukup lancar. Waktu sama Om Rizal ditanya-tanya tentang klub bola dan diminta nemenin nonton bola via telepon! Hahaha kebayang ga tuh berapa lama teleponan? Om Tono dan Om Mamat nanya-nanya seputar kerjaan, juga ngasih wejangan tentang keluarga. Dan tiga-tiganya bilang "Oke wit, om sih suka." pas nelepon aku, 6 dari 9 lagi-lagi lancar. Mulai kepikiran "jangan-jangan beneran ini jodoh aku."πŸ˜‚

Terakhir, Om Jajat, Tante Yuli, dan Yanti (adik bungsu papah, yang umurnya lebih muda jauh dari aku). Sekaligus ada alm. Mbah Putri. Waktu sowan ke Om Jajat lancar. Tapi ada cerita lucu pas di rumah Tante Yuli, oh iya FYI Tante Yuli tinggal bareng sama Mbah Putri dan Yanti. Karena pas kesini aku gabisa izin kerja, jadi mamah sama A Fahru berangkat ber-2 aja. Dari cerita mamah sebenernya semua lancar, Tante Yuli nanya-nanya seputar kerjaan dan ngasih gambaran serta kebiasaan keluar besar seperti apa. Mbah Putri (alm. beliau meninggal sebelum aku sama A Fahru menikah) ngasih wejangan. Tapi malemnya Tante Yuli nelepon.

"Wit itu Fahru kasih tau, kalau manggil keluarga kita jangan bibi, tapi tante atau ua!".

Astagfirullah... lupa bilang! Jadi kalau dikeluarga kami biasanya nyebut yang dituakan itu tante/om/ua. Sedangkan bibi biasanya untuk asisten rumah tangga. Pantesan tante yuli kaget dipanggil bibi. Aku lupa beda kultur keluarga.πŸ˜‚ Karena kan  keluarga A Fahru panggilan bibi itu untuk yang dituakan. Jadi kita berdua lupa tukeran info penting tentang itu. Mungkin buat yang lagi ta'aruf ini juga info yang wajib di share saat proses ta'aruf ya!

Dan akhirnya selesai sudah 9 dari 9. Dan masyaAllah semuanya bilang setuju dan ngasih respon positif sama A Fahru. Sebenernya walaupun  masih belum muncul rasa suka, tapi tahapan yang udah dilewatin menguatkan hati untuk terus berdoa.

"Ya Allah, kalau memang dia jodohku mudahkanlah prosesnya hingga akad itu tiba. Dan berikanlah kami Sakinah, Mawwadah, Warrohmah."

 

doa ta'aruf
Photo by Bassam ibram from Pexels
 

 

Tahapan Ta'aruf



 

2 minggu setelahnya giliran aku yang ke rumah A Fahru. Sebelumnya, aku udah wanti-wanti ke A Fahru, kalau aku tegang ga akan bisa makan, jadi jangan di paksa makan. Bantu jelasin ke orangtua biar ga tersinggung. Aku ditemenin kakak perempuanku, ke rumah A Fahru. Alhamdulillah sambutan keluarganya baik banget, mungkin karena hari kerja, jadi saat itu cuma ada ibu, bapak, sama neneknya yang kemudian kita sebut emak. 

Cuma ngobrol ringan, perkenalan, makan bareng (beneran deh aku gabisa nelen padahal yang disuguhin enak-anak ada sambel, ikan asin, sayur asem, lalapan, tahu tempe.) , disini A Fahru beneran bantu nerangin kalau memang aku gabisa makan karena DIET! Haha. Gabisa diajak kerjasama nih orang πŸ˜‚. Selesai makan, kami ngobrol lagi sebentar, terus pulang. Pulang dari rumah A Fahru aku bersyukur , Allah Maha Baik, ngasih aku calon mertua yang keliatannya ramah dan baik. Aku berdoa, kalau memang jodoh, semoga selalu bisa rukun sampai setelah menikah. Aamiin.

Kalau dari proses dari awal hingga proses ini, sebenarnya justru A Fahru lebih banyak berjuang daripada aku. Dan masyaAllah dia mau berjuang sampe akhirnya pernikahan kami terwujud.

Konflik selanjutnya justru datang dari aku sendiri yang masih frontal bilang "Belum ada rasa suka, malah adanya gasuka!" sampai sesaat sebelum akad. Bikin mamah cukup frustasi saat itu πŸ˜‚. Akan aku sambung di part selanjutnya ya. πŸ˜† InsyaAllah. Sehat selalu semuanya.
 



15 komentar :

  1. Ga sabar baca cerita berikutnya. Aku kaya nonton drama gitu.. bacanya sambil senyum2. Rupanya email2an pun tetap di fasilitasi ya? Jadi kepo mba, kapan bisa ngomong langsungnya tanpa ada perantara?

    BalasHapus
  2. Wah, saya jadi penasaran nih sama part part selanjutnya. Udah ngikutin dari part 1 dan bikin deg degan semua kisahnya 🀭

    BalasHapus
  3. Aku senyum-senyum sendiri bacanya mbak, Yaa Alloh kenapa aku yang jadi kasamaran gini ya, so sweet banget. Tapi, emang bener ya mbak, kalau orang beneran serius ama kita itu benar-benar berjuang ya mbak.Tapi, gimana tu mbak bisa sejutek itu hahahah aku kok gak tega ya mbak.

    BalasHapus
  4. Akuuu selalu suka ceritanya Mbak Wita tentang pengalaman taaruf. Gigih banget yaa suami Mbak waktu itu, luar biasa deh menghadapi Mbak Wita hahaha xD dari cara Mbak Wita menjelaskan pun membuat aku kebayang suasananya seperti apa,ditunggu Mbak part selanjutnyaaa..

    BalasHapus
  5. Manisnya kisah ini, aku senyum-senyum baca cerita mba Wita. Perjuangan kalian melewati taaruf luar biasa. Semoga selalu bahagia ya mbaa

    BalasHapus
  6. Duuuh seru pisan cerita taaruf nya mbak bakalan jd cerita seru sama anak2 nanti. Aku nungguin next part nya deh. Ga sabar pengen tau kelanjutannya

    BalasHapus
  7. Haha ada tahap juteknya juga ternyata ya WITA ngikik bacanya..belum lagi harus disetujui 9 om dan Tante berat juga perjuangan Mas Fahru yaa hihihi

    BalasHapus
  8. Nah loh, udah mau akad tapi masih belum ada rasa? Secuil pun gak ada? Penasaran deh wkwkwkwk

    BalasHapus
  9. WKWKWKKWKWK aku deg-degan sambil cengegesan bacanya mba witaaa, tapi ini sweet loh apalagi pihak cowo mau berjuang sampe sebegitunyaaa 😍 next storie ayo aku pensaaraaaann! πŸ™ˆ

    BalasHapus
  10. Hihihi.. lucu ceritanya kaya baca novel romantik comedy hehe
    Harus gitu ya mbak galak dan jutek haha, apalagi sampe ngga bisa nelen makanan pula sewaktu dateng kerumah suami mbak dulu haha.
    Memang ya kalau sudah niat dan jodoh pasti akan ada jalan, walaupun sempet dijutekin sama mbak Ros ahhaha

    BalasHapus
  11. Saya ketawa baca judulnya, mbak. Fit and proper test πŸ˜‚ tapi seru. Ditunggu cerita selanjutnya

    BalasHapus
  12. Ijin shere ke ponakan ponakan ku nih , Mbak.. sangat berguna bagi mereka.. terimakasih Mbak .

    BalasHapus
  13. Ijin shere ke ponakan ponakan ku nih , Mbak.. sangat berguna bagi mereka.. terimakasih Mbak .

    BalasHapus
  14. Hehe, menarik banget ceritanya. Dari tulisan ini setidaknya saya bisa mengambil pelajaran, bahwa lelaki keren itu lelaki yang berani menghadap calon mertua. Dan perempuan yang baik itu akan memakai cara baik pula untuk mengenal calon suaminya.


    semoga selalu bisa rukun sampai setelah menikah. Aamiin.

    BalasHapus
  15. wahh perjuangan ngadepin 9 orag adeknya alm papa yaa, warbiyasak. Btw saat itu usia Aa Fahru dan Mb Wita berapa?

    BalasHapus

Yuk Diskusi Disini...^^

Back to Top